Ate sing smangat

Sunday, July 23, 2006

Merpati tak pernah inkar janji

Alkisah, pada suatu hari Raja Merpati amat membutuhkan pertolongan Raja Kelinci untuk menyembuhkan anaknya yang sekarat. Tapi, Raja Kelinci masih ingat dengan perbuatan kawanan merpati yang menerkam anaknya beberapa bulan yang lalu. Ia sebenarnya enggan menolong Raja Merpati. Namun, sekawanan pasukan merpati sudah siap mengawal Raja Merpati. Karena itu ia mengajukan syarat yang berat dipenuhi Raja Merpati. Apakah Raja Merpati bersedia menuruti permintaan Raja Kelinci? "Apa dia memintaku untuk memakan rumput dan biji-bijian?" Raja Merpati bertanya dalam hati.

Sulit rasanya memenuhi permintaan itu. Tapi, Raja Merpati teringat anaknya yang sedang sekarat.

"Uukh.. akkh.. tolong, tolong, tolong, tolooong..," Pangeran Merpati mengerang kesakitan.

"Ada apa anakku?" tanya Raja Merpati.

"Uukh.. akkh.. tolong ayah.. a.. aa.. aaa.. aaku..," jawab Pangeran Merpati lemah.

"Anakkuuuuuuuuuuu....," sahut Raja Merpati.

"Bagaimana? Apa kau sanggup memenuhi permintaanku, Raja Merpati? Apa kau dan rakyatmu sanggup untuk memakan rumput atau biji-bijian dan tidak lagi memakan daging? Tak ada pilihan lain, atau anakmu akan mati," Raja Kelinci bertanya.

Wah, ini keputusan berat yang harus raja Merpati ambil.

"Baiklah. aku sanggup. Aku dan anak buah serta keturunanku tak akan memakanmu dan teman-temanmu. Aku akan memakan biji-bijian seperti katamu," jawab Raja Merpati.

Wah, ada apa nih. Mengapa jadi gelap begini? Mengapa jadi banyak kilat? Kesanggupan Raja Merpati itu didengar dan disaksikan oleh alam semesta, Naomi. Tampak tiba-tiba kilat menyambar-nyambar, mendung tampak hitam, dan hujan deras segera turun.

"Baiklah akan kuucapkan mantera penyembuh untuk anakmu," kata Raja Kelinci.

Raja Kelinci mengambil tongkat penyembuhnya, lalu memukulnya ke bumi tiga kali.

"Sova Kasa Koso, Sovi Kuso Kuse, Sova Kasa Koso, Hiduplah kembali, Berikan kembali, Kembalikan kembali semua kekuatan pada Pangeran Merpati," sahut Raja Kelinci mengucap mantera.

Terjadilah keajaiban. Burung itu seketika sehat. Burung itu seketika sehat. Setelah mengucap terima kasih kepada Raja Kelinci, Raja Merpati beserta anak buahnya meninggalkan tempat. Sesampainya di sarangnya, segeralah Raja Merpati memerintahkan semua merpati untuk berkumpul, lalu di hadapan para merpati itu, Raja memerintah.

"Hai para merpati, mulai saat ini kita akan meninggalkan tempat ini, kita akan berkumpul dengan kelinci, ayam dan hewan yang lain dengan damai. Mari kita ubah kebiasaan makan kita dari daging menjadi biji-bijian, agar kita menjadi binatang yang lemah lembut dan tidak suka bertindak semena-mena," kata Raja Merpati.

Mulai saat itu burung merpati bisa hidup berdampingan dengan ayam, bebek, kelinci serta hewan ternak lainnya. Sifat-sifat mereka juga berubah. Merpati tampak lebih lemah lembut dan suka menolong seperti sekarang.

Thursday, February 23, 2006

Sepasang angsa dan seekor katak

Musim kering telah tiba, sekelompok angsa bersiap-siap
terbang bersama meninggalkan sebuah danau yang mulai
dangkal untuk bermigrasi ke arah selatan ke sebuah
tempat dimana air mengalir.
Seekor katak yang gelisah memohon kepada sepasang
angsa yang sedang bersiap-siap agar turut membawa
serta dirinya. “Bagaimana caranya agar kita bisa
membawa serta kamu, sementara kamu hanya bisa
melompat?” jawab si angsa jantan. “Saya ada ide,
kalian gigit erat-erat kedua ujung akar rumput ini dan
saya menggigit ditengah kemudian terbang bawalah saya
beserta kalian” Sahut si katak seraya meletakkan
sebuah akar rumput dihadapan mereka.
“Baiklah, sungguh ide yang hebat, kami setuju terbang
bersamamu” jawab si angsa betina disertai anggukan
setuju pasangannya.

Dan terbanglah mereka dengan membawa si katak yang
tergantung ditengah akar rumput yang digigitnya.
Dibawah sana banyak orang berdecak kagum keheranan
serta memuji melihat kecerdikan mereka bertiga.
Sampai kemudian tak luput dari angsa lain yang terbang
bersama mereka juga turut memuji dan salah satunya
berkata “Kalian bertiga sungguh cerdik, siapa yang
punya ide secemerlang ini?”

“Ide saya” sahut si katak dengan spontan membuka
mulutnya dan seketika itu lepaslah gigitannya dari
akar rumput dan seketika itu juga tubuhnya meluncur
deras ke bumi, hancur menghantam bebatuan dibawah
sana.

Pepatah mengatakan, “Tutuplah mulutmu maka orang
takkan tahu seberapa tahunya kamu dan bukalah mulutmu
maka mereka takkan meragukan ketidaktahuanmu” Pepatah
itu benar adanya, tapi bayangkanlah apa saja yang akan
hilang seandainya tak ada yang tutup mulut.

Hikmahnya adalah tentang kapan waktu yang tepat untuk
berbicara dan kapan waktunya menjadi pendengar yang
baik.

Monday, February 20, 2006

KEBEBASAN

Alhamdulillah, aku seorang tante yang berbahagia (bukan tante girang loch ya…). Aku punya enam orang keponakan yang lucu-lucu, dari dua orang kakakku yang hidup rukun dengan keluarganya, mereka sudah pisah rumah tidak lagi bersama ibuku. Akhir minggu ini aku masih bisa sempatkan jalan-jalan bareng dengan keponakanku, juga berenang. Bagiku, adalah kebersamaan dengan bocah-bocah sesuatu yang sangat menyenangkan.

Tapi dua hari ini, sebuah rasa yang asing menghantuiku, membuat tidur tidak nyenyak dan makan tak enak. Tambah lagi, aku bawaannya marah-marah melulu, uring-uringan. Rasanya aku jadi begitu jenuh dengan semua yng kumiliki dan ku lakukakn. Aku seperti kehilangan begitu banyak waktu dalam hidupku, aku menjadi sebuah mesin dari hidupku sendiri. Aku jadi tidak lagi bisa menikmati duduk di atas atap rumah nenekku sambil menatap bintang-bintang di langit,Aku tak bisa lagi bebas berkejaran dengan bebek-bebek yang diternakkan “aki” di kampung dulu. Aku tak lagi bebas menaiki punggung kerbau atau berkubang sambil memandikan hewan gendut itu, aku tak bisa lagi bermain kembang api dengan adik dan teman-temanku.

Kemana saat indah itu pergi? Hingga aku tersadar, aku begitu tua. Kebanyakan teman sepermainanku telah punya anak, bahkan ada beberapa yang sudah dipanggil oleh yang kuasa.Aku jadi begitu rindu semua kebebasan yang ku miliki ketika aku masih kanak-kanak dulu. Aku ingin kembali, Kueja rinduku…… Hingga saat keponakanku yang laki-laki berkata : “amah, abang pengen jadi kondektur bis”. Mengapa kondektur sayang? Tanyaku dengan wajah terjejut “habis, dia bebas naik mobil ngak bayar, malah dapat uang.” Belum habis rasa terkejutku, tiba-tiba keponakanku yang perempuan bilang : “kakak juga pengen jadi tukang es krim aja”. Teriaknya dengan cerewet. Mengapa sayang? Tukang es krim kan capek, sering kena panas kalo sedang keliling (sambil hati bergumam ada apa dengan keponakan-keponakanku?) “biarin, yang penting kakak bisa bebas makan es krim, ngak dilarang-larang sama abi dan umi.Kakak bosan, setiap hari pake baju seragam SD Thoriq melulu, harus minum susu. Pokoknya bosaaaan”

Benar…..rindu itu bernama bebas…….kebebasan yang selengkapnya.

Sambil merasa haru dari perkataannnya yang “pentes” ku peluk keponakan-keponakanku. Mereka tertawa riang……Rindu kita sama keponakan-keponakanku, rindu kebebasan yang belum atau pernah kita miliki, sebab kita telah terjerembab oleh rutinitas, yang meski kecil warnanya sama.

Keponakanku sungguh mengajariku sesuatu, bahwa pada hakekatnya manusia akan protes terhadap kemonotonan irama. Karenanya ia rindu pada irama lain, irama kebebasan. Kita kira, kita pernah meraihnya pada masa kanak-kanak dulu,tapi mereka anak-anak itu, mereka justru merasa akan meraihnya pada masa dewasa kelak. Atau memang ini salah satu cirri manusia yan g juga disebut dalam al-qur’an, bahwa manusia adalah makhluk yang suka mengeluh?

Tapi, jikalau begitu, benarkah kebebasan itu menjadi relative. Tergantung siapa yang memandang dan dari sudut mana ia memandang?....................

Saturday, February 11, 2006

Sabtu malam ku sendiri

Tadi malam dengan hati gondil aku berangkat ikut pertemuan pembentukan paguyuban pedagang bakso. Bagaimana ngak gondil? Weekend, aku ingin nonton, ingin ke salon, ingin istirahat, pokokke ingin mikirin diri sendiri dech....Eh, malah ada rapat. Tapi ngak pa-pa, aku melangkah dengan gondil dan sedikit bumbu ikhlas, karena yakin tujuanku mulia, ingin berdayakan para pedagang kecil itu. Pertemuan berlangsung dari jam 20.00 - 23.30. Tak terasa, 3,5 jam aku dikerumunan 40 orang bapak-bapak.

Sebagai seorang konsultan dan nara sumber inisiasi pembentukan paguyuban, posisiku sangat menyenangkan, mereka banyak melibatkan aku untuk diskusi pengembangan usaha,konsultasi bisnis UKM dan tentu mereka libatkan aku sebagai dewan penasehat paguyuban. Inilah malam yang paling aku rindukan, dimana aku berada di kerumunan laki-laki, yang mau mendengar aku dan ide-ide baruku. Aku merasa sangat dihargai, karena mereka memandang aku bukan sebagai pandangan laki-laki pada wanita yang selama ini kufahami dan ku takuti. Aku mampu mengendalikan mereka, terlepas aku ini wanita.

Benar, kata seorang sepupuku dan juga sahabatku, bahwa banyak laki-laki yang bijak, care, tanggungjawab dan menawan. Tidak semua laki-laki egois dan kasar. Buktinya? Sabtu malam aku wanita sendiri bersama 40 orang laki-laki, tetap aman terkendali. Malah kami membentuk paguyuban.....He3x. Thank to seluruh warga paguyuban "NGUDI RUKUN" I LOVE YOU ALL......Aku akan terus berusaha mendampingi kalian dengan ide-ide cemerlang dari timku.

Wednesday, February 08, 2006

Seperti Menggenggam Pasir

Pernahkah anda pergi ke pantai dan bermain pasir? Bukan membuat aneka bentuk seperti yang dilakukan bocah-bocah, tapi Cuma sekedar meraup sedikit dengan kedua belah telapak tangan.Setelah butir-butir itu ada dalam wadah telapak tangan kita, remaslah makin lama makin kuat. Apa yang terjadi?

Semakin kuat dan bersemangat kita meremasnya, semakin banyak pasir yang tumpah dari tangan kita, sampai akhirnya, tinggal tersisa sedikit pasir saja, dan kita tak punya jalan lain kecuali membuangnya. Tapi kita coba ambil lagi pasir-pasir itu, masih dengan kedua belah tangan kita sebagai wadah. Secukupnya saja, biarkan pasir-pasir itu tetap di tangan, rasakanlah dengan segenap hati, perlahan-lahan kita merasakan pasir-pasir itu Cuma bergerak di sekitar wadah bila tertiup angin. Gesekan antar pasir atau antara tangan kita dengan pasir, menimbulkan rasa hangat.

Lalu ada apa sebenarnya?Adakah hubungan antara bermain pasir dalam genggaman dengan sesuatu dalam hidup kita?Pasti ada. Bukankah Allah selalu dengan bijak menuntun kita untuk mengambil permisalan? Apa yang kita lakukakn ketika kita merasakan jatuh cinta? Menggenggamnya erat-erat dengan segala cara, atau membiarkannya mengikuti alur yang dituntunkan Allah? Atau kita membuangnya tanpa menimbang dulu? Kadang tanpa sadar kita menggenggamnya sangat erat. Kita begitu takut kehilangan cinta itu. Bahkan sampai-sampai kita tak memberinya ruang gerak. Maka cinta pun menjadi sempit dalam banyak arti. Cinta menjadi legalitas suatu penguasaan hidup orang lain yang kita cintai. Kita cenderung mendominasi kehidupan orang itu. Dimanapun kebersamaan seperti menjadi satu kewajiban. Kita dan orang yang kita cintai lama-lama tak lagi bebas bergerak.

Konsep kebersamaan yang terlalu erat malah membuat orang-orang di dalamnya sukar berkembang. Cinta menjadi stempel hak milik seseorang, tidak boleh dibagi-bagi dengan yang lain. Bergerak sedikit menimbulkan kecemburuan, dan orang-orang yang terlilit cemburu pun tidak bebas, hatinya selalu waswas, penuh suuzhon. Jangan-jangan orang yang saya cintai suka sama si X, atau fikiran-fikiran negative lainnya. Hidup jadi tidak tenang, inginnya menuduh dan marah.

Kemudian karena takut kehilangan cinta, maka kita menggenggamnya dengan cara yang salah, yang kemudian bila tak berwujud nyata, kita menjadi tidak percaya terhadap ketentuan-ketentuan Allah. Maka dikarang-karanglah cara menggenggam cinta yang sepertinya melemparkan jauh-jauh kemumkinan tidak samanya ketentuan Allah dengan keinginan kita. (astagfirullah)

Bagaimana pula cinta bisa terjadi dengan kondisi-kondisi di atas? Yang terjadi malah cinta itu kehilangan makna, usang, layu bahkan mati dengan sendirinya. Cinta yang semestinya damai malah membawa resah dan amarah. Cinta jadi makin sulit difahami, makin jauh untuk dicapai, padahal CINTA itu Cuma bisa dicapai dengan KEDAMAIAN BATIN DAN KETULUSAN HATI.Sementara bila kita memilih membuangnya jauh-jauh tanpa menimbangnya lebih dulu, bagaimana? Memangnya kita sudah yakin betul bahwa kita tidak perlu minta petunjuk Allah sang pemberi cinta, sebelum kita betul-betul mengenyahkan rasa itu? Kalau begitu dimana kita meletakkan Allah dalam hidup kita?

Dan bersyukurlah orang-orang yang memilih membiarkan cinta itu hadir dalam hidup mereka. Kemudian membiarkannya tetap di tempat yang semestinya,sepanjang masih dalam batas-batas yang wajar. Kemudian membiarkan Allah menuntunnya dengan segala kasih sayangNYA.

Percayakah anda bahwa cinta yang demikian akan menghangatkan hati kita? Memberi rasa damai, aman dan nyaman dalam hidup kita. Cinta yang menghantarkan kita pada rasa syukur yang tak terhingga. Selanjutnya badai demi badai seperti berlalu dengan damai. Segalanya menjadi kuat. Setertutup apapun kita, saya percaya kita manusia normal yang butuh dicintai dan mencintai, saya menginginkan cinta yang seperti ini…………

Wednesday, February 01, 2006

Kisah Kodok Rebus

Kodok, makhluk amphibi, yang memiliki kulit tebal dan mudah beradaptasi dengan lingkungannya. Jika Kodok ini nyemplung ke air panas, maka spontan ia akan melompat. Selamatlah ia dari maut. Tapi, jika kodok diremdam dalam air suhu kamar, dia akan tahan, lalu dinaikkan suhu air sedikit demi sedikit, kodok pun akan tahan. Hingga Pada suhu tinggi, kodok tetap bertahan dalam air, tapi tentu jika 100 derajat celcius, kodok tetap bertahan dan mati.

kadang aku merasa seperti kodok rebus, Sebenarnya aku mampu melompat, jika dalam kondisi tidak kondusif, atau diberi tantangan yang tajam. Tetapi,sekali waktu mumkin aku tidak sadar, bahwa aku terlalu takut, kadang tidak bisa hidup saat jauh dari dirinya, saat dekat ia begitu berarti bagiku, hingga tak pernah terbayangkan aku untuk berpisah darinya.

aku tak ingin diriku terjerembab seperti itu, aku ingin semua berjalan seperti apa adanya diriku, tapi cinta telah membuat aku seperti kodok rebus. Aku mencintainya, tapi aku tak tahu apakah dia mencintaiku seperti yang ku harapkan atau tidak. Aku belum faham bahasa cintanya. Ku fikir selama ini dia memcintaiku, tapi ternyata dia berkenalan dengan orang lain. Ku fikir selama ini dia menyayangiku sebagai seorang laki-laki dan wanita dewasa, tapi ternyata aku keliru, ya...dia sahabatku, dia sepupuku. Bagaimana kami akan bersatu? Kecuali jika Tuhan berkehendak, semua akan baik-baik saja. Aku masih berharap, ada keajaiban Tuhan untukku, agar aku tidak mati sepeti kodok rebus, aku berharap dapat melakukan lompatan yang membuat hidupku lebih fun, lebih happy, dan tentu lebih realistis.Setiap doa malamku, selalu ku panjatkan, semoga suatu saat nanti, sahabatku, sepupuku, bisa jadi milikku. Kalaupun dia bukan milikku, aku akan tetap menjadi sahabat terbaik baginya dan tentu saja, sepupunya. Tuhan.....tolong aku.Aku yakin, jodoh, maut, rizqi semua sudah diatur oleh MU Tuhan..... Beri aku kebahagiaan dunia dan akhiratku. Hanya padaMU ku serahkan hidup dan matiku. Untuk sepupuku, semoga persahabatan kita terjalin hingga mengantarkan pada SyurgaNYA. Dan, aku masih tetap mencintaimu walau mumkin suatu saat kau bukan milikku. Aku penganut aliran "cinta bukan berarti memiliki". Dan kebahagiaanku adalah melihat orang yang ku cintai bahagia, walau mumkin sebenarnya hatiku mengangis.Huk...huk...huk....

IZIN CUTI

Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Mohon maaf kepada semua teman-teman, untuk sementara aku belum bisa tayang dulu. Mumkin sampai pertengahan Pebruari 2006. Mohon doa, semoga urusanku dilancarkan. Untuk semua teman-teman, SELAMAT BERJUANG!!! ALLAHU MA'ANAA.....

Wednesday, December 21, 2005

Tangis dan air mata

Tangis dan air mata
(Rabu malam setelah peristiwa sore tadi di hadapan Bu Nancy)

Saat hatiku gundah dan resah, engkau menemaniku tanpa banyak kata
Engkau hadir disana, memupus gundah dan resahku.
Saat aku bersedih dan sedu hati, engkau menemaniku tanpa enggan.
Engkau hadir di sampingku mengurangi sedih dan senduku.
Saat aku merasakan pedih dan perih,merobek-robek jantungku
Engkau menemuiku tanpa ku pinta, engkau hadir di sisiku menghapus pedih dan perihku

Saat aku sakit dan terluka, engkau menunnguiku dengan tenang
Engkau hadir di relung dadaku,mengobati sakit dan lukaku.
Saat aku marah dan kecewa, engkau mendatangiku tanpa pesan
Engkau hadir di sudut jiwaku, tuntaskan marah dan kecewaku.
Saat aku merasa terengah-engah dan kasihan, engkau bersamaku dalam diam
Engkau hadir dikedalaman nuraniku, menampung segala kasihanku.
Saat aku takut dan berbuat salah, engkau menujuku cepat-cepat
Engkau hadir di ruang hatiku, menjagaku dari penyesalan berkepanjangan, menjagaku untuk tidak tenggelam dalam ketakutan. Bahkan saat aku terharu dan bahagia engkau pun tetap bersamaku.
Engkau ada disini, mewujudkan bahagia dan haruku
Diam-diam engkau merembes di sudut mataku,resapkan resah dan gundahku.

Diam-diam engkau meretas dari kelopakku, tiriskan sedih, pedih dan perihku
Engkau meleleh di pipiku, hanyutkan sakit dan lukaku
Emgkau membasahi wajahku, larutkan marah dan kecewaku
Engkau mengalir ke daguku, larutkan terenyuh dan kasihanku.
TANGIS…….engkau menjadi symbol segala ekspresiku.